Penulis salah satu fans sepakbola tim nasional (Timnas) Indonesia yang tak setuju pemecatan Pelatih Indra Sjafri. Hanya 10 bulan diberikan tugas untuk melatih Timnas U-19 hingga vonis kejam tak diperpanjang kontraknya. Seperti diketahui bila pelatih asal Sumatera Barat ini diberi mandat mengurus tim Garuda Muda sejak Februari 2017 dan seharusnya berakhir Desember 2017.
Tapi PSSI memilih untuk tak memperpanjang kontrak Indra Sjafri dalam konferensi pers di Kantor PSSI, Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (21/11/2017) sore. Tidak memperpanjang kontrak merupakan bahasa halus yang digunakan PSSI dari yang sebenarnya mendepak Coach Indra, sapaan akrap Indra Sjafri. Bagaimana mungkin pada waktu yang begitu singkat itu memvonis bahwa Coach Indra gagal total.
Alasan PSSI memecat Coach Indra hanya karena tak mampu menunjukkan prestasi dalam ajang Piala AFF U-18 dan kualifikasi Piala Asia U-19. Memang pelatih gagal harus diganti dengan arsitek lain. Tapi dengan waktu sesingkat itu tak bisa menjadi sebuah barometer bahwa Coach Indra sudah gagal total. Cara seperti itu mengukur seorang pelatih bisa dibilang sangat idiot di era sepakbola modern ini.
PSSI seperti menafikan prestasi yang pernah ditorehkan Coach Indra saat membawa timnas U-19 menjadi juara Piala AFF 2013 dan lolos ke putaran final Piala Asia U-19 di Myanmar 2014. Timnas U-19 era Evan Dimas Darmono juga mengejutkan sepakbola level Asia. Karena pada pertandingan terakhir penyisihan Grup G Piala Aceh U-19, Indonesia berhasil menghatam tim kuat dan diunggulkan plus raksasa Asia, Korea Selatan dengan skor ketat, 3-2.
Ini sebuah prestasi yang sangat membanggakan seluruh anak bangsa yang melalui sepakbola makin cinta kepada timnas. Kesuksesan ini membuat timnas U-19 menjadi idola di seluruh penjuru negeri dari kota hingga ke pelosok desa. Mereka menemukan kembali jati diri bangsa ini untuk bangkit melalui sepakbola. Tapi dasar PSSI tidak becus dan penuh intrik politik hingga sepakbola ini terjerembab dalam pusingan kepentingan dan kekacauan level atas.
Setelah dualisme sepakbola membuat banyak talenta muda kehilangan harapan untuk menjadikan sepakbola sebagai masa depan yang menjanjikan. Konflik PSSI dan Kemenpora kembali datang saat itu juga hingga membuat FIFA menjatuhkan sanksi terhadap timnas Indonesia. Lagi-lagi pemain usia produktif, seperti Evan Dimas, Zulfiandi dan banyak lainnya hingga pemain yang masih dididik di sekolah sepakbola (SSB) kehilangan semangat dan harapan untuk bercita-cita menjadi pemain profesional.
Untuk menata kembali sepakbola Indonesia terutama Timnas memang butuh waktu dengan jadwal kompetisi yang teratur dan jelas serta bebas dari konflik internal dan kepentingan. Seperti yang pernah dilakukan Coach Indra yang berkenala ke seluruh penjuru negeri untuk mencari mutiara cemerlang sebagai talenta timnas masa depan.
Apa yang dilakukan oleh Coach Indra saat itu hingga menjadi juara tidaklah tercapai secara instan. Tapi butuh waktu dan diberi kesempatan untuk menata timnas supaya menjadi kesebelasan yang disegani kawan dan ditakuti lawan. Artinya butuh waktu yang cukup untuk membina dan menghasilkan timnas yang tangguh dan secara perlahan mengejar prestasi yang diimpikan.
Kesuksesan Timnas U-19 binaan Coach Indra pada era Evan Dimas tak terlepas dari persiapan dan perencanaan panjang. Mulai dari mencari pemain di seluruh penjuru negeri, menyeleksi dan memilih pemain yang dibutuhkan untuk timnas. Coach Indra kala itu bersama timnya juga punya standar yang diterapkan supaya hasilnya skuad timnas levelnya setara tingkat Asia dan dunia.
"Tim ini (Timnas U-19) tidak ujuk-ujuk bisa juara. Sudah disiapkan waktu agak panjang. Kita harus memilih pemain terbaik di Indonesia. Makanya, saat memilih pemain yang merupakan hasil blusukan, kita tetapkan standar. Kalau mau bicara piala dunia atau Asia, standarnya harus standar Asia atau dunia. Tidak mungkin di bawah itu," kata Coach Indra kepada wartawan BBC Indonesia, Heyder Affan di Jakarta, Senin 28 Oktober 2013.
Intinya butuh waktu dan harus diberi kesempatan untuk membentuk sebuah tim yang solid dan tangguh. Tapi bila diberi waktu tak sampai 10 bulan untuk menghasilkan tim yang berprestasi dengan kompetisi Liga 1 dan Liga 2 yang baru normal bergulir, sungguh pemikiran yang idiot. Bagaimana bisa publik yang paham sepakbola bisa menerima keputusan yang dilatar belakangi keputus-asaan dalam memutar kompetisi penuh kekacauan.
Sudah menjadi rahasia umum bagaimana pelaksaan Liga 2 yang penuh dengan kekacauan di lapangan hingga perkelahian yang memakan korban. Liga 1 yang seharusnya menjadi ukuran cermin sepakbola nasional juga mengecewakan dan mendapat protes dari klub. Padahal Liga 1 hendak dijadikan teladan untuk diikuti liga dibawahnya, justru menampilkan citra yang tak kalah buruknya. Hasil Liga 1 pun justru mengecewakan banyak klub mulai dari lapangan hingga regulasi berubah-ubah.
Padahal kompetisi yang bagus adalah gudang untuk menghasilkan pemain timnas yang bisa diandalkan untuk membela marwah bangsa. Tapi kompetisi yang amburadur penuh dengan kekacauan dan kepentingan justru menghasilkan pemain timnas yang tak bisa diandalkan.
Harapan besar untuk sepakbola Indonesia adalah tak menjadikan PSSI peluang masuknya kepentingan politik. Tapi murni untuk mengendalikan sepakbola Indonesia dengan kompetisi yang teratur dan menjadi barometer yang membanggakan. Supaya kelak dari kompetisi yang tanpa gaduh bisa melahirkan pemain timnas yang tangguh. Jangan sampai buruk rupa, cermin dibelah dengan cara menjadikan pihak lain sebagai tumbal dari kegagalan yang sesungguhnya.
Coach Indra merupakan tumbal buruk rupa PSSI yang tak memuaskan dalam penataan sepakbola Indonesia. Kita juga ingin memberikan kesempatan kepada PSSI untuk bekerja guna menghasilkan kompetisi Liga 1 dan Liga 2 hingga ke bawahnya pada musim kedua. Kesempatan ini diperlukan untuk mengetahui kemampuan pengurus PSSI dengan perangkatnya untuk memperbaiki kekurangan sebelumnya.
Begitu juga dengan Coach Indra agar diberi kesempatan untuk menata timnas menghadapi Piala AFF U-18 selanjutnya dan kualifikasi Piala Asia U-19. Bila tak memuaskan atau gagal di kesempatan kedua, baru bisa diambil tindakan tegas untuk pemecatan. Artinya coach asal Sumatera Barat itu punya kesempatan untuk memenuhi target atau gagal. Kalau target tercapai bisa dipertahankan dan bila gagal dapat dicari penggantinya untuk membuktikan dalam mengejar prestasi yang dibanggakan seluruh anak bangsa. Ingat! Sang Juara Tidak Muncul Tiba-tiba.
Sumber : Uc News


